Jawa Travelling

Indahnya hidup sederhana di Baduy Luar

on
14 Maret 2018

“Pondok teu meunang disambung, nu panjang teu meunang dipotong”

Baduy Luar

                Itulah motto hidup yang diusung masyarakat Baduy selama hidupnya, kira-kira artinya begini “yang pendek tak boleh disambung dan yang panjang tak boleh dipotong”. Mereka mengandalkan kearifan alam dan menjaganya demi kelangsungan hidup bersama. Cukup mengambil apa yang dibutuhkan di alam tanpa mengeksplorasi terlalu banyak agar tidak menimbulkan kerusakan pada alam yang mereka hormati.

          Sudah lama saya penasaran dengan kehidupan suku Baduy, bagaimana mereka bisa bertahan hidup begitu sederhana dan menjaga prinsip ini dari generasi ke generasi. Kesempatan berharga ini saya peroleh dengan melakukan perjalanan mengunjungi suku Baduy Luar bersama rekan-rekan Backpacker Jakarta . Suku yang berada di kabupaten Lebak ini kami kunjungi pada akhir 2017 lalu. Perjalanan ini kami awali dengan bertemu di stasiun Rangkasbitung dilanjutkan menggunakan bus elf dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 2 jam.

Jembatan akar            Destinasi awal kami adalah jembatan akar, yaitu salah satu akses yang digunakan warga Baduy keluar dari kawasan perkampungan menuju ladang mereka atau ke arah kota ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 30 menit dari kawasan perkampungan warga sekitar. Jembatan ini awalnya merupakan jembatan bambu biasa namun seiring berjalannya waktu dililit oleh akar-akar pohon sehingga mengokohkan jembatan dan secara alami mempercantik jembatan tersebut. Kami cukup menghabiskan waktu untuk menikmati pemandangan alami disini karena jalan masuk ke kampung Baduy akan kami tempuh lewat jalur lain yang umum digunakan pengunjung yaitu pintu Ciboleger.welcome to Ciboleger

           Sekitar 40 menit dari jembatan akar elf kami sampai di Ciboleger, disambut hangat oleh patung selamat datang dari keluarga Baduy dan deretan toko-toko cinderamata. Daerah Ciboleger ini bisa disebut perbatasan antara perumahan warga modern dan warga adat Baduy. Sebagian bangunan merupakan rumah permanen berdinding tembok dan sebagian lagi merupakan rumah-rumah panggung khas warga Baduy yang berdinding anyaman bambu. Oke, ini tandanya perjalananpun dimulai.

          Desa yang akan kami singgahi bernama desa Balimbing, ditempuh dengan berjalan kaki sekitar dua jam. Dari segi durasi rasanya masih lumayan terjangkau tenaga, namun medan yang dilalui ternyata cukup melelahkan karena topografinya yang berbatu-batu dan naik turun. Dua jam cukup bikin ngos-ngosan dan lelah luar biasa, ga kebayang gimana masyarakat Baduy selalu melewati jalur ini untuk keluar masuk kawasan adatnya. Kelelahan perjalanan sedikit terlupakan karena sepanjang perjalanan kita dapat melihat pemandangan ladang-ladang yang dikelola secara alami dan beberapa perkampungan disekitarnya. Lumbung-lumbung padi khas Baduy yang disebut Leuit juga dapat ditemui di beberapa lokasi.

           Menjelang maghrib kami akhirnya sampai di desa Balimbing. Kami segera menuju rumah warga yang disediakan bagi kami pengunjung untuk menginap. Lelah? Letih? Lesu? Lengket berkeringat? Itu pasti. Kami segera mengambi kesempatan untuk bebersih dan mandi sebelum hari semakin gelap. Menariknya adalah rumah-rumah warga disini sudah dilengkapi kamar mandi namun masih terbatas untuk buang air saja, untuk mandi dan mencuci dilakukan di sungai. Mandi di sungai nih? Yeay! Kapan lagi punya kesempatan mandi beramai-ramai di sungai, hahaa priceless moment. Setelah merasakan segarnya mandi di sungai kami disuguhkan makan malam yang sederhana namun sungguh nikmat ga pake boong. Nasi dengan sayur lengkap dengan ikan yang ditangkap secara alami di sungai. Lelahnya hari ini sangat terbayar dengan pengalaman hari ini. Sepanjang malam kami habiskan dengan sharing dengan salah satu pemuda Baduy Luar, bercerita tentang seluk beluk suku Baduy Luar dan Baduy Dalam, keseharian mereka, dan dilanjutkan dengan hujan pertanyaan dari kami yang penasaran ini-itu tentang Baduy (sharing dan hasil tanya jawab kami akan muncul di artikel berikutnya ya). Malam yang begitu berfaedah.

Leuit desa Gajeboh        Sepanjang pagi esoknya kami habiskan dengan menapaki jalan dari desa Balimbing menuju desa tetangganya yaitu desa Gajeboh, destinasi utamanya adalah melihat Leuit, lumbung padi masyarakat Baduy. Perjalanan ini cukup ditempuh sekitar 15-20 menit, menapaki bebatuan yang disusun menjadi jalan setapak warga Baduy, sungguh rapi dan asri. Setelah melalui jalan setapak kita akan melewati jembatan bambu agar sampai ke Leuit. Jembatan yang kami lalui hanya berupa susunan bambu yang dililit tali ijuk namun sangat kokoh. Diseberang jembatan terdapat beberapa bangunan Leuit masyarakat Baduy, terbuat dari anyaman bambu beratapkan tumpukan daun palem dan ditopang oleh empat buah tiang. Leuit terlihat sangat sederhana namun gudang “emas”nya warga Baduy ini ternyata mampu menyimpan padi hingga puluhan tahun lho. Luar biasa kan? Hal yang bagi kita sangat sederhana namun sangat efektif bagi kelangsungan hidup mereka.

gadis-gadis kecil Baduy         Pagi hari pria-pria Baduy sudah berangkat dari rumahnya untuk mencari nafkah, mayoritas bekerja sebagai petani. Sedangkan wanita Baduy selain mengurus rumah tangga mereka juga memiliki keterampilan menenun. Sehingga sepanjang pagi pun kami sudah melihat wanita-wanita Baduy duduk di beranda menenun kain. Kain-kain ini kebanyakan akan dijual kepada para pengunjung yang datang ke desa adat.

     Selama dua hari menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Baduy merupakan pengalaman yang sangat berharga. Bagi kita yang terlalu terbiasa hidup penuh teknologi yang tak ada habisnya (bahkan cenderung merusak alam), pengalaman ini mungkin perlu kita jalani agar kembali pada kesederhanaan hidup. Hidup berkecukupan bukan berarti kekurangan, namun memanfaatkan apa yang perlu bagi kita dan tetap menjaga keseimbangan alam.

TAGS
RELATED POSTS
5 Comments
  1. Balas

    Antin Aprianti

    15 Maret 2018

    Cantin-cantik sekali anak-anak baduynya. Btw diakhir kalimat jika ingin menggunakan titik, jangan dikasih spasi ya. Keep writing!!

  2. Balas

    dewirtd

    15 Maret 2018

    nice artikel nih. aku jg pernah ke baduy tapi sepanjang perjalanan di guyur hujan jd belum ke jembatan akar hiks…next ke baduy lagi

  3. Balas

    indriatigusti

    15 Maret 2018

    Pengen ke tempat ini tapi belum terlaksana, keren.

  4. Balas

    estalinafebiola

    18 Maret 2018

    Anaknya manis-manis ya..
    Btw, bener ngga sih kalo di Baduy itu dijodohin sama saudara sendiri?

  5. Balas

    manstreni

    7 Juli 2018

    Mas/Mba udah gabung dengan paytren atau belom ngk??

LEAVE A COMMENT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Agnes Nainggolan
Indonesia

Hi my name is Agnes and it's my time turner! I use this notes to tell people my story and all of good things I could get about life. Through all the places and things I see around the world, there isn't a best way to share my experience, follow my updates and discover with me the essence of life! and don't forget to share yours too!

Instagram
Instagram did not return any images.

Follow Me!