Jawa Travel

My First Summit at 3153 masl, Sindoro

on
18 Agustus 2018

“climb mountain not so the world can see you, but so you can see the world”-

                Hey kamu! Iya kamu yang lagi baca ini, sudah pernah ke Sindoro? Belum? Wah waah sayang sekali, ini adalah salah satu destinasi kece buat para penikmat ketinggian. Memiliki ketinggian diatas 3000 mdpl jalur yang akan dilalui cukup menantang, didominasi area tanah kering berdebu dan berbatu-batu. Untuk mencapai puncak Sindoro bisa dilalui dengan dua jalur, yaitu jalur Kledung dan jalur Sigedang-Tambi. Pendakian saya kali ini bersama teman-teman Backpacker Jakarta kami tempuh via Kledung.

                Sindoro merupakan sebuah gunung yang terletak di Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Temanggung dengan ketinggian  3.153 mdpl. Di kalangan pendaki, gunung ini terkenal sebagai salah satu anggota 3S, dan merupakan ‘adik bungsu’ karena ketinggiannya relatif lebih rendah dibandingkan dua gunung lainnya yaitu Sumbing (3.371 mdpl) dan Slamet (3.428 mdpl). Sindoro masih merupakah gunung berapi aktif, ditandai dengan kawah yang masih mengeluarkan asap belerang cukup tebal. Tidak banyak catatan mengenai letusan yang pernah dialami Sindoro, dan sejauh ini masih merupakan gunung yang cukup aman untuk dikunjungi.

Pendakian pun dimulai, Pos I ( mdpl)

                Perjalanan menuju puncak Sindoro kami mulai sekitar pukul 11 siang, dari basecamp Grasindo kami naik ojek hingga ke pos 1, hehe. Ya, naik ojek merupakan salah satu cara menghemat tenaga dan waktu pendakian. Dengan ongkos sekitar 25ribu rupiah kita sudah dapat merasakan sensasi naik ojek yang ‘ngegas terus’ ditengah jalur berbatu dan tanjakan. Perjalanan naik ojek dari basecamp hingga pos 1 ditempuh sekitar 15 menit. Kalau ditanya bagaimana perasaan selama 15 menit itu? Waduh sungguh campur aduk, rasanya pengen turun aja dan jalan kaki sampai pos 1, hehe tapi si bapak ojek dengan santai menenangkan kita sambil terus tancap gas (kita? ya satu ojek bisa mengangkut hingga dua orang dan carrier sekaligus), what a tough life as a Sindoro Ojekers, hehe.

Pos II (1.980 mdpl) – Pos III (2.315 mdpl)-camp area

                Perjalanan menuju pos 2 disambut dengan tanjakan yang nyaris tanpa bonus (baca; jalur datar). Namun demikian dengan kanopi pohon yang rindang cukup melindungi kita selama perjalanan kurang lebih 1 jam. Sesampainya di pos 2 kami beristirahat sejenak untuk mengatur kembali nafas. Beberapa teman mangambil waktu sejenak untuk beribadah sholat. Perjalanan berlanjut, pemandangan yang tak jauh berbeda dari jalur pos II, masih dilindungi dengan kanopi hutan yang rindang namun jalur yang ditempuh lebih terjal dan sulit. Bebatuan besar disepanjang jalur sukses membuat tubuh kami tertekuk-tekuk untuk memanjat. Memiliki persediaan makanan kecil seperti cokelat dan madu sangat membantu mempertahankan tenaga agar cukup hingga di basecamp area.

                Sekitar pukul 4 sore kami akhirnya sampai di pos 3 dan mendirikan tenda. Sebenarnya area camp khusus didepan kami, dengan sedikit tanjakan lagi yang harus dilalui , namun berhubung penuh maka kami memutuskan untuk camp di pos 3 ini. Dengan sisa tenaga yang ada, kami mempersiapkan makan malam dan beristirahat.

Summit time!

“when everything feels like an uphill struggle, just think of the view from the top”

                For the first in forever, akhirnya saya merasakan summit menuju puncak gunung. Sebagai seorang pendaki pemula, beberapa gunung yang sudah pernah saya jajali cenderung tidak ada momen summit di dini hari. Namun kali ini berbeda karena pertama kalinya kami harus bangun jam 3 pagi dan mulai menjajal medan menuju puncak. Dingin dan gelap-gelapan sambil menginjakkan kaki diantara bebatuan memang sesuatu sekali, tidak ada kata mundur karena didepan gelap dan belakang pun gelap, hehe. Apalagi jika tidak membawa headlamp (baru sadar saat persiapan summit ternyata headlamp saya tidak terbawa) keseruan subuh itu makin bertambah karena mau tidak mau saya harus menggantungkan langkah pada senter orang lain, dan tentunya sedikit merepotkan teman juga. Sesekali kami berhenti sambil mengumpulkan napas dan menikmati kelap-kelip lampu kota di antara kaki gunung Sindoro dan Sumbing. Dari seberang sana (Gunung Sumbing) pun tampak kelap-kelip lampu di badan gunung, teman-teman lain pun sedang berjuang summit diujung sana.

Sekitar 2 jam kami lalui dalam gelap, namun tak berapa lama secercah cahaya itu muncul, ya, arunika (matahari terbit) yang menjadi salah satu tujuan kami ke Sindoro. Lelah dan dingin seketika terbayar ketika sang matahari mulai menampakkan diri dan seolah memberi semangat baru, kami pun berhenti sejenak untuk menikmati momen indah ini. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata ketika cahaya fajar semakin terang dan mempertegas pemandangan indah gunung Sumbing dikelilingi kabut tipis nan lembut.

Perjalanan pun kami lanjutkan. Medan yang cukup menanjak dan beberapa puncak PHP (saya sebut demikian karena seolah sudah mencapai puncak namun ternyata bukan, haha) mengantarkan kami ke pos 4, Batu Tatah 2838 mdpl. Pos inilah yang menjadi favorit pendaki untuk mengabadikan momen karena terdapat sekumpulan batu besar yang kokoh dan membentuk gundukan cukup tinggi. Bagi beberapa teman yang merasa tidk cukup kuat untuk summit, pos 4 ini menjadi perhentian yang cukup memuaskan.

Sisa-sisa tenaga yang ada kami kumpulkan untuk summit. Medan yang masih berbatu dan kini cukup berpasir agak menyulitkan perjalanan. Untuk menyiasatinya bisa mengambil jalur yang ada rerumputannya, meskipun sedikit namun cukup membantu. Berdasarkan info yang beredar di  jalan menuju puncak kita akan bertemu padang edelweis, namun sejauh mata memandang pohon berbunga abadi itu tak kami temukan. Tanjakan tanpa bonus yang cukup melelahkan mengantarkan kami sampai di puncak Sindoro sekitar pukul 7 pagi, puji Tuhan. Empat jam perjalanan summit pertama yang luar biasa, hehe.

                Puncak Sindoro terdapat kawah cukup besar yang masih aktif mengeluarkan belerang. Bibir kawah cukup luas untuk menampung para pendaki yang berhasil mencapai puncak ini. Menghela nafas sejenak dan bersyukur atas ciptaanNya yang agung ini merupakan hal yang tak terlewatkan. Satu hari lagi kekuatan yang Dia berikan untuk kita bisa menguasai diri dan fokus hingga mencapai puncak Sindoro, ya hanya karena Dia. Tak lupa pula kami mengabadikan momen ini dengan bidikan lensa kamera. Sekitar pukul 8.30 kami meninggalkan puncak menuju area camp.

                Sekitar pukul 11.45 sebagian dari tim sudah sampai di camp area pos 3. Kami makan, bebersih dan membereskan camp untuk bersiap turun. Setelah memastikan semua tim sudah sampai di camp dan beberes sekitar pukul 1 siang kami mulai turun menuju basecamp. Perjalanan turun memakan waktu sekitar 2,5 jam. Sekitar pukul 4 sore sampailah di basecamp, mandi dan berangkat pulang menuju Jakarta sekitar pukul 5 sore.

Tips dan trik pendakian Sindoro:

  • Saat summit bawa persediaan air yang cukup, karena perjalanan menuju puncak tidak ada sumber air
  • Jangan lupa membawa headlamp dan baterai cadangan supaya summit berjalan lancar
  • Usahakan membawa cemilan kecil seperti cokelat, permen, atau madu untuk menambah tenaga sepanjang perjalanan
  • Jika memungkinkan bawa tracking pole untuk membantu meringankan beban tumpuan kaki, karena tanjakan yang cukup terjal
TAGS
RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Agnes Nainggolan
Indonesia

Hi my name is Agnes and it's my time turner! I use this notes to tell people my story and all of good things I could get about life. Through all the places and things I see around the world, there isn't a best way to share my experience, follow my updates and discover with me the essence of life! and don't forget to share yours too!

Instagram
Instagram did not return any images.

Follow Me!